KALA TIDHA
S I n o m
Winahya ring mangsa kala, mapan angeksi martani, prabawanireng bawana, sawahaning sakalir, kawawas wosing budi, riweding sarwa tumuwuh, tuwuh kataman ilham, mudar warnaning gaib, wong awerda kaweca wacananira.
Mangkya darajating praja, Kawuryan wus sunyaturi, Rurah pangrehing ukara, Karana tanpa palupi, Atilar silastuti, Sujana sarjana kelu, Kalulun kala tida, Tidhem tandhaning dumadi, Ardayengrat dene karoban rubeda.
ά
Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih, Pra nayaka tyas raharja, Panekare becik-becik, Paranedene tan dadi, Paliyasing Kala Bendu, Mandar mangkin andadra, Rubeda angrebedi, Beda-beda ardaning wong saknegara.
Katetangi tangisira, Sira sang paramengkawi, Kawileting tyas duhkita, atamen ing ren wirangi, Dening upaya sandi, Sumaruna angrawung, Mangimur manuhara, Met pamrih melik pakolih, Temah suka ing karsa tanpa wiweka.
Dasar karoban pawarta, Bebaratun ujar lamis, Pinudya dadya pangarsa, Wekasan malah kawuri, Yan pinikir sayekti, Mundhak apa aneng ngayun, Andhedher kaluputan, Siniraman banyu lali, Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.
Ujaring paniti sastra, Awewarah asung peling, Ing jaman keneng musibat, Wong ambeg jatmika kontit, Mengkono yen niteni, Pedah apa amituhu, Pawarta lolawara, Mundhuk angreranta ati, Angurbaya angiket cariteng kuna.
Keni kinarta darsana, Panglimbang ala lan becik, Sayekti akeh kewala, Lelakon kang dadi tamsil, Masalahing ngaurip, Wahaninira tinemu, Temahan anarima, Mupus pepesthening takdir Puluh-Puluh anglakoni kaelokan.
Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada.
Semono iku bebasan, Padu-padune kepengin, Enggih mekoten man Doblang, Bener ingkang angarani, Nanging sajroning batin, Sejatine nyamut-nyamut, Wis tuwa arep apa, Muhung mahas ing asepi, Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma.
Beda lan kang wus santosa, Kinarilah ing Hyang Widhi, Satiba malanganeya, Tan susah ngupaya kasil, Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung, Marga samaning titah, Rupa sabarang pakolih, Parandene maksih taberi ikhtiyar.
ά
Sakadare linakonan, Mung tumindak mara ati, Angger tan dadi prakara, Karana riwayat muni, Ikhtiyar iku yekti, Pamilihing reh rahayu, Sinambi budidaya, Kanthi awas lawan eling, Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma.
Ya Allah ya Rasulullah, Kang sipat murah lan asih, Mugi-mugi aparinga, Pitulung ingkang martani Ing alam awal akhir, Dumununging gesang ulun, Mangkya sampun awredha, Ing wekasan kadi pundi Mula mugi wontena pitulung Tuwan.
Tumuwuhing tyas weweka, mekani sangkering weri, weri wirotaning tinggkah, satitikaning sakalir, silir-silir sumilir, saliring mala maladkung, kangkat kalis kalingan, tawekal wekel teteki, tekaning kak tan angingkedi ing tekad.
Pan kahanan kahenengan, nahan nguningani ening, tan ana sakara-kara, karenan purnameng kapti, temahan angenani, ngangen-angen yuwana yu, wahya-wahyu dyatmika, wikan wewengkoning gaib, dadi sidik sawadining kawaspadan.
ά
Paran mangke kang den angkah, bangsa kas amung angingkis, pangringkesing saniskara, karaket karsa pribadi, pribadining sasandi, sandeyaning rat dahuru, riwet tan karawatan, musti waskiteng pangesti, asusantya setya tuhu tinahenan.
Sageda sabar santosa, Mati sajroning ngaurip, Kalis ing reh aruraha, Murka angkara sumingkir, Tarlen meleng malat sih, Sanityaseng tyas mematuh, Badharing sapudhendha, Antuk mayar sawetawis, Borong angga sawargaga mesI martaya.

Ilmu selalu membukakan cahaya. Tapi, di setiap ujung langkah, kegelapan mencegatnya. Ternyata, itulah yang memungkinkan perjuangan menjelajahi arasyi ilmu “berjanji” untuk mengantarkan kita ke keabadian. Sebut: ke Tuhan.
Jika seseorang menggenggam keyakinan ilmu tanpa menyisakan “uang tak terduga”, sesungguhnya ia sedang melamar “kematian”. Kata kematian sengaja kita taruh diantara tanda petik karena kosmologi yang kita pahami—seperti Syekh Siti Jenar memandangnya—ternyata terbalik.
Wali “sempalan” itu memandang dunia dan kehidupan absrud adanya. Kejelasannya sangat tidak jelas dan ketidakjelasannya sangat jelas. Mungkin ada kata tertoreh yang lebih lugas: “Saksikanlah, kematian bertebaran dalam kehidupan!”
Kematian berlapis-lapis dan berdimensi. Berbagai kematian hampir tak diketahui oleh mereka yang menyangka sedang tinggal dalam kehidupan. Kematian memang tak terlihat. Ini membuat orang bersorak-sorai di lantai pesta kematian yakni kehidupan. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan.
Orang mencemaskan kematian. Bahkan mereka siap membayar penghindarannya dengan biaya yang muskil, dengan ilmu dan pembangunan yang memperanakkan penindasan dan perang.
Kematian bertebaran dalam kehidupan. Kematian riuh rendah. Oleh karena itu, di segala zaman, amat sedikit orang yang bersedia menempuh jalan sunyi. Amat sedikit orang bertanya. Sebab, ilmu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kebudayaan menjawab pertanyaan dengan perombakan. Pembangunan menjawab pertanyaan dengan peruntuhan. Sejarah menjawab pertanyaan dengan perubahan. Dan politik menjawab pertanyaan dengan senapan.
Siti Jenar memilih jalan sunyi itu. Betapa terkutuk ia, tetapi betapa agung sakit yang dikunyahnya. Bukan Siti Jenar, tapi “Siti Jenar”. Bukan figurnya, tapi substansi dan posisi simbolisnya. Siti Jenar sudah terpenjara: kumal, kumuh, dan barangkali terkutuk-oleh “syariat” sejarah. Oleh formalisme dan “materialisme”. Tapi “Siti Jenar” adalah salah satu idiom yang menggairahkan untuk menyebut bagian—dari dunia dan kehidupan—yang mempertanyakan. Menawar. Menggugat.
Tatkala mengantarkan “kematian”-nya, Sunan Bonang menurut salah satu versi legenda tentangnya berkata, “Engkau kafir di mata manusia, tapi muslim di pangkuan-Nya.”
Alangkah berbahaya. Ini revolusi filsafat, juga teologi. Itulah pintu untuk menjumpai kehidupan sejati dibalik kematian yang kita hidup-hidupkan. Dan pintu itu harus ditutup rapat-rapat: tidak saja oleh ideologi pembangunan yang memompa-mompa kesementaraan yang berujung kebuntuan dan serta batu bata emas permata yang berujung kemusnahan. Pintu itu bahkan di gembok erat-erat oleh kekuasaan syariat di pangung pemelukan agama. Tampaknya, Sunan Bonang mengucapkan kalimat “subversif” itu dalam sidang tertutup yang dilarang diperdengarkan ke telinga umat.
Maka, Siti Jenar harus disembunyikan. Ia ancaman terhadap kebakuan, kebekuan dan kemapanan. Ia ancaman bagi tradisi, konvensi, pakem, ketertaatan yang selesai: yakni segala bangunan, sistem, keberlakuan nilai, yang diresmikan untuk tak boleh diubah, untuk menjadi museum.
Dalam kebudayaan, adanya kehidupan ditandai oleh terus-menerus berlangsungnya transformasi kreatif. Atau paradigma dalam penjelajahan ilmu, inovasi dalam kesenian, ijtihad dalam agama. Itu semula jalan sunyi. Dunia kekuasaan mencurigainya, formalisme agama menyempalkannya, kebudayaan mengangapnya gila, dan kebanyakan manusia tak menyapanya.
Wajah “Siti Jenar” membayang di keremangan dunia puisi, yang terduduk sepi di pojok pasar. Terselip dibalik lembaran-lembaran ilmu yang berhasil memotret realitas tetapi gagal merekam geraknya. Kalau ditanyakan kepadanya-”Dimana letakmu dalam tata nilai budaya?, ia menjawab-”Aku berumah di geraknya. Aku berjalan melintasi petak demi petak kebekuannya. Aku tidak percaya kepadanya karena dia palsu: kalau dipertahankan ia mati, kalau di ubah ia menjelma kelenyapan demi kelenyapan”.
Siti Jenar sudah dipatungkan dalam format nilai budaya sejarah: ia mati, dimatikan, dan menjadi kematian. Tapi “Siti Jenar” sudah hidup, mengatasi budaya, dan bergabung ke keabadian.
Ketika dipanggil menghadap sidang para wali, ia menjawab, “Siti Jenar tak ada. Hanya Tuhan yang ada.”
Siti Jenar bukan Tuhan. Sama sekali bukan Tuhan, Apa yang ia lakukan “hanyalah” peniadaan diri. Sebab, memang hanya itulah satu-satunya jalan bagi manusia. Hanya Tuhan yang sungguh-sungguh ada. Manusia hanya seakan-akan ada, hanya diadakan, diselenggarakan. Sejatinya tak ada. Maka, jalan agar tak palsu, agar sejati, ialah meniada, bergabung kepada satu-satunya yang ada. Itulah tauhid.
Ini juga bukan soal tasawuf, mistik, dan kebatinan. “Siti Jenar” ditemukan oleh orang-orang tua yang mulai melihat bahwa segala sesuatu yang ia ada-adakan selama hidupnya dengan keringat dan tumpukan dosa ternyata sangat potensial untuk tiada. “Siti Jenar” ditemukan oleh para penguasa yang di ujung jatah keberkuasaannya ia memperoleh lebih banyak ketidakamanan.
“Siti Jenar” menemani orang yang dikejar-kejar karena mengugat dan menawarkan kehidupan kepada kematian yang dilestarikan. “Siti Jenar” terkapar bersama sedikit orang penolak kematian yang berwujud otoritarianisme politik, ketakberbagian ekonomi dan kejumudan kultur. “Siti Jenar” bernyanyi perih dalam tidur orang-orang yang meletakkan fikih sejajar dengan firman dan identik dengan Tuhan. “Siti Jenar” tercampak dari arena kebudayaan yang hanya sanggup menerima verbalitas bahasa, yang mengahafalkan hidup adalah KTP, negara, norma, undang-undang, dan juklak-juknis. Terlempar dari kebudayaan yang bersembahyang demi prevensi kepegawaian teologis dan tidak dalam dinamika ilmu tarekat; yang berpuasa untuk lapar, berzakat untuk kredit status, berhaji untuk keningratan. “Siti Jenar” diusir oleh formalisme, “syariat” dan fanatisme.
Kalimat “Siti Jenar tak ada, yang ada hanya Tuhan” tidak sedikitpun mengindikasikan bahwa ia “menuhankan diri”. Ia bahkan menyadari hakekat ketiadaannya. Firaun tidak pernah menyatakan “Akulah Tuhan!”. Yang ia lakukan-sehingga bermakna menuhankan diri ialah menomorsatukan yang selain Tuhan: ambisi kekuasaan, maniak harta benda, mengumbar nafsu, merancang segala sesuatu, dan mengeksploatasikan apa saja yang bisa dijangkau untuk kepentingan karier dan masa depan pribadi.
Itulah obsesi populer kita sehari-hari. Itulah jalanan ramai, pasar riuh rendah kita semua.
Emha Ainun Nadjib
SYAIKH SITI JENAR
Sang Siti Jenar

Ilmu selalu membukakan cahaya. Tapi, di setiap ujung langkah, kegelapan mencegatnya. Ternyata, itulah yang memungkinkan perjuangan menjelajahi arasyi ilmu “berjanji” untuk mengantarkan kita ke keabadian. Sebut: ke Tuhan.
Jika seseorang menggenggam keyakinan ilmu tanpa menyisakan “uang tak terduga”, sesungguhnya ia sedang melamar “kematian”. Kata kematian sengaja kita taruh diantara tanda petik karena kosmologi yang kita pahami—seperti Syekh Siti Jenar memandangnya—ternyata terbalik.
Wali “sempalan” itu memandang dunia dan kehidupan absrud adanya. Kejelasannya sangat tidak jelas dan ketidakjelasannya sangat jelas. Mungkin ada kata tertoreh yang lebih lugas: “Saksikanlah, kematian bertebaran dalam kehidupan!”
Kematian berlapis-lapis dan berdimensi. Berbagai kematian hampir tak diketahui oleh mereka yang menyangka sedang tinggal dalam kehidupan. Kematian memang tak terlihat. Ini membuat orang bersorak-sorai di lantai pesta kematian yakni kehidupan. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan.
Orang mencemaskan kematian. Bahkan mereka siap membayar penghindarannya dengan biaya yang muskil, dengan ilmu dan pembangunan yang memperanakkan penindasan dan perang.
Kematian bertebaran dalam kehidupan. Kematian riuh rendah. Oleh karena itu, di segala zaman, amat sedikit orang yang bersedia menempuh jalan sunyi. Amat sedikit orang bertanya. Sebab, ilmu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kebudayaan menjawab pertanyaan dengan perombakan. Pembangunan menjawab pertanyaan dengan peruntuhan. Sejarah menjawab pertanyaan dengan perubahan. Dan politik menjawab pertanyaan dengan senapan.
Siti Jenar memilih jalan sunyi itu. Betapa terkutuk ia, tetapi betapa agung sakit yang dikunyahnya. Bukan Siti Jenar, tapi “Siti Jenar”. Bukan figurnya, tapi substansi dan posisi simbolisnya. Siti Jenar sudah terpenjara: kumal, kumuh, dan barangkali terkutuk-oleh “syariat” sejarah. Oleh formalisme dan “materialisme”. Tapi “Siti Jenar” adalah salah satu idiom yang menggairahkan untuk menyebut bagian—dari dunia dan kehidupan—yang mempertanyakan. Menawar. Menggugat.
Tatkala mengantarkan “kematian”-nya, Sunan Bonang menurut salah satu versi legenda tentangnya berkata, “Engkau kafir di mata manusia, tapi muslim di pangkuan-Nya.”
Alangkah berbahaya. Ini revolusi filsafat, juga teologi. Itulah pintu untuk menjumpai kehidupan sejati dibalik kematian yang kita hidup-hidupkan. Dan pintu itu harus ditutup rapat-rapat: tidak saja oleh ideologi pembangunan yang memompa-mompa kesementaraan yang berujung kebuntuan dan serta batu bata emas permata yang berujung kemusnahan. Pintu itu bahkan di gembok erat-erat oleh kekuasaan syariat di pangung pemelukan agama. Tampaknya, Sunan Bonang mengucapkan kalimat “subversif” itu dalam sidang tertutup yang dilarang diperdengarkan ke telinga umat.
Maka, Siti Jenar harus disembunyikan. Ia ancaman terhadap kebakuan, kebekuan dan kemapanan. Ia ancaman bagi tradisi, konvensi, pakem, ketertaatan yang selesai: yakni segala bangunan, sistem, keberlakuan nilai, yang diresmikan untuk tak boleh diubah, untuk menjadi museum.
Dalam kebudayaan, adanya kehidupan ditandai oleh terus-menerus berlangsungnya transformasi kreatif. Atau paradigma dalam penjelajahan ilmu, inovasi dalam kesenian, ijtihad dalam agama. Itu semula jalan sunyi. Dunia kekuasaan mencurigainya, formalisme agama menyempalkannya, kebudayaan mengangapnya gila, dan kebanyakan manusia tak menyapanya.
Wajah “Siti Jenar” membayang di keremangan dunia puisi, yang terduduk sepi di pojok pasar. Terselip dibalik lembaran-lembaran ilmu yang berhasil memotret realitas tetapi gagal merekam geraknya. Kalau ditanyakan kepadanya-”Dimana letakmu dalam tata nilai budaya?, ia menjawab-”Aku berumah di geraknya. Aku berjalan melintasi petak demi petak kebekuannya. Aku tidak percaya kepadanya karena dia palsu: kalau dipertahankan ia mati, kalau di ubah ia menjelma kelenyapan demi kelenyapan”.
Siti Jenar sudah dipatungkan dalam format nilai budaya sejarah: ia mati, dimatikan, dan menjadi kematian. Tapi “Siti Jenar” sudah hidup, mengatasi budaya, dan bergabung ke keabadian.
Ketika dipanggil menghadap sidang para wali, ia menjawab, “Siti Jenar tak ada. Hanya Tuhan yang ada.”
Siti Jenar bukan Tuhan. Sama sekali bukan Tuhan, Apa yang ia lakukan “hanyalah” peniadaan diri. Sebab, memang hanya itulah satu-satunya jalan bagi manusia. Hanya Tuhan yang sungguh-sungguh ada. Manusia hanya seakan-akan ada, hanya diadakan, diselenggarakan. Sejatinya tak ada. Maka, jalan agar tak palsu, agar sejati, ialah meniada, bergabung kepada satu-satunya yang ada. Itulah tauhid.
Ini juga bukan soal tasawuf, mistik, dan kebatinan. “Siti Jenar” ditemukan oleh orang-orang tua yang mulai melihat bahwa segala sesuatu yang ia ada-adakan selama hidupnya dengan keringat dan tumpukan dosa ternyata sangat potensial untuk tiada. “Siti Jenar” ditemukan oleh para penguasa yang di ujung jatah keberkuasaannya ia memperoleh lebih banyak ketidakamanan.
“Siti Jenar” menemani orang yang dikejar-kejar karena mengugat dan menawarkan kehidupan kepada kematian yang dilestarikan. “Siti Jenar” terkapar bersama sedikit orang penolak kematian yang berwujud otoritarianisme politik, ketakberbagian ekonomi dan kejumudan kultur. “Siti Jenar” bernyanyi perih dalam tidur orang-orang yang meletakkan fikih sejajar dengan firman dan identik dengan Tuhan. “Siti Jenar” tercampak dari arena kebudayaan yang hanya sanggup menerima verbalitas bahasa, yang mengahafalkan hidup adalah KTP, negara, norma, undang-undang, dan juklak-juknis. Terlempar dari kebudayaan yang bersembahyang demi prevensi kepegawaian teologis dan tidak dalam dinamika ilmu tarekat; yang berpuasa untuk lapar, berzakat untuk kredit status, berhaji untuk keningratan. “Siti Jenar” diusir oleh formalisme, “syariat” dan fanatisme.
Kalimat “Siti Jenar tak ada, yang ada hanya Tuhan” tidak sedikitpun mengindikasikan bahwa ia “menuhankan diri”. Ia bahkan menyadari hakekat ketiadaannya. Firaun tidak pernah menyatakan “Akulah Tuhan!”. Yang ia lakukan-sehingga bermakna menuhankan diri ialah menomorsatukan yang selain Tuhan: ambisi kekuasaan, maniak harta benda, mengumbar nafsu, merancang segala sesuatu, dan mengeksploatasikan apa saja yang bisa dijangkau untuk kepentingan karier dan masa depan pribadi.
Itulah obsesi populer kita sehari-hari. Itulah jalanan ramai, pasar riuh rendah kita semua.
Emha Ainun Nadjib